Kaca tempered

Mengenai Kaca Tempered

Kaca tempered dibuat dari kaca float berkualitas tinggi melalui proses pemanasan thermal di mana kaca akan dipanaskan sampai dengan titik lunaknya kemudian didinginkan secara cepat. Hal ini akan memberikan kaca tempered kekuatan lebih. Kaca temperd mempunyai kekuatan 4 sampai 5 kali lebih baik terhadap benturan, tekanan, maupun perubahan suhu ekstrim dibandingkan kaca biasa dengan ketebalan sama. Kaca tempered juga diklasifikasikan sebagai kaca pengaman dan ketika pecah akan berubah menjadi pecahan-pecahan kecil (sebesar ibu jari tangan) yang tidak tajam, sehingga mengurangi resiko terjadinya cedera serius.
Keuntungan pemakaian kaca tempered

  1. Kekuatan: kaca tempered menurut standard ASTM C1048 adalah 4 sampai dengan 5 kali lebih kuat daripada kaca biasa dengan ketebalan sama.  Untuk kaca tempered minimal tekanan permukaan adalah 10000 psi
  2. Keamanan: ketika pecah terkena benturan, kaca tempered akan langsung menjadi pecahan-pecahan kecil sebesar ibu jari tangan dan tidak tajam.  Hal ini akan mengurangi terjadinya cedera serius

Kekuatan thermal: ketika sinar matahari mengenai langsung permukaan kaca, akan terjadi pemanasan.  Proses pemanasan ini tidak merata di permukaan.  Biasanya bagian tengah kaca memiliki tendensi untuk memanas lebih cepat, sedangkan bagian tepi kaca masih relatif dingin.  Jika perbedaan suhu ini mencapai batas tertentu, bisa menyebabkan kaca pecah.  Tetapi kaca tempered mempunyai kekuatan tepi yang lebih baik sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya pecah karena perbedaan suhu/panas
Beberapa point yang layak jadi perhatian untuk kaca tempered:
  1. Distorsi optik: kaca tempered yang diproses dengan menggunakan horisontal furnace(tungku pemanasan horisontal) akan meninggalkan  sedikit tampak gelombang (wave) pada permukaannya.  Hal ini terjadi karena adanya kontak dengan roller pada saat proses pemanasan.  Orientasi kaca di dalam furnace menjadi penting untuk meminimalisasi tampak gelombang pada permukaan
  2. Warping/bowing: kaca sedikit melengkung seperti busur, karena kaca tempered dipanaskan sampai titik lunaknya (sekitar 700 C) kemudian didinginkan secara cepat, akan terjadi sedikit gejala warp/bow.  Selama gejala ini masih dalam batas toleransi, tidak akan mengganggu dalam aplikasinya untuk berbagai keperluan
  3. Fragmentasi: kaca tempered pada dasarnya digunakan karena faktor kekuatan dan faktor keamanannya, jadi test fragmentasi menjadi sangat penting untuk mendapatkan informasi mengenai kaca itu sendiri.  Pecahan harus berukuran sama, kecil(sebesar kuku ibu jari tangan), dan tidak tajam.   Standard SNI mengharuskan untuk luasan kaca tempered 50mm x 50mm ada minimal 40 pecahan berukuran sama.  Jika ada pecahan yang berukuran lebih besar, hal ini menandakan adanya bagian kaca yang lebih lemah
Langkah-langkah dalam proses produksi kaca tempered:
  1. Memotong kaca mentah/raw glass sesuai dengan ukuran yang dikehendaki oleh pihak pembeli/customer.  Kaca dapat berupa kaca polos/bening(clear), tinted(warna), atau reflective
  2. Setelah dipotong, bagian tepi kaca akan mengalami proses edging/digosok.  Tujuannya menghilangkan bagian tajam, jika kualitas edging kurang baik,  dapat menyebabkan pecah di dalam furnace.  Lubang dan cowakan(jika memang diminta) akan dikerjakan selanjutnya
  3. Kaca akan mengalami proses pencucian dan pengeringan sebelum dipindahkan ke area proses tempering
  4. Kaca kemudian dimasukkan ke dalam ruang pemanasan dan dipanaskan sampai ke titik lunaknya(sekitar 700 C), segera setelah kondisi ini tercapai, kaca dipindahkan lagi ke proses selanjutnya yaitu didinginkan secara cepat dengan meniupkan udara dengan tekanan tertentu pada kedua sisinya (atas & bawah).  Pendinginan secara cepat ini akan menimbulkan stress di berbagai bagian daripada kaca itu sendiri yang akhirnya menimbulkan beberapa area stress yang berbeda.  Hal ini yang memberikan kekuatan pada kaca tempered
  5. Setelah proses pendinginan secara cepat selesai,  kaca akan keluar sebagai kaca tempered
Warna, kejernihan, komposisi kimia, transmisi cahaya tidak mengalami perubahan setelah proses tempering. Juga kekerasan, gravitasi spesifik, koefisien pemuaian, titik lunak, konduksi panas maupun kekakuan tidak berubah.  Beberapa  properti fisik yang berubah adalah kenaikan daripada tensile strength, ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan suhu ekstrim, dan ketahanan yang lebih baik terhadap benturan.